Pernyataan yang tak jarang kita dengar di kalangan
orang banyak (pribumi) adalah, “hati-hati dengan orang asing (China)”.
Pernyataan tersebut seakan menjadi bahasa ampuh untuk menumbuhkan rasa benci
terhadap orang non pribumi yang tinggal di Indonesia. Akibat dari pernyataan
tersbut, akhirnya masyarakat mengalami ksisis truth (krisis kepercayaan)
terhadap orang non pribumi, dalam hal ini juga sama dengan apa yang dilakukan
oleh para petani.
Petani adalah sebuah profesi yang sangat mulia. Jika
tidak ada petani di negeri ini, maka kemungkinan negara kita ini akan selalu
mengalami ketergantungan kepada negara-negara asing, jika tidak ada petani,
kita tidak akan bisa makan. Dan bila kita lihat mayoritas penduduk Indonesia
ini berprofesi sebagai petani.
Seorang petani yang begitu ikhlas, gigih, serta rela
berpanas-panasan di bawah terik matahari, hanya untuk menjadikan hasil
tanamannya bagus hingga bisa dijual dengan harga yang cukup tinggi, dan biaya
dari hasil penjualan tanaman tersebut semata-semata untuk membiayai
keluarganya. Tanaman yang berpendapatan besar biasanya tanaman tembakau.
Indonesia merupakan penghasil tembakau terbesar
keenam di dunia http://komunitaskretek.or.id/ragam/2013/03/6-negara-produsen-tembakau-terbesar-dunia/
. oleh sebab itu, apabila tembakau di negeri ini anjlok, maka besar kemungkinan
APBN kita akan menurun drastis.
Ada beberapa permasalahan yang pernah penulis dengar
dari para petani, khususnya petani tembakau diantaranya:
Pertama, ketidak jelasan harga. Petani tembakau cenderung
tidak mengetahui berapa harga hasil tanamannya (tembakau) pada setiap musimnya.
Mereka hanya bermodalkan percaya kepada bos atau pengusaha tembakau serta
berharap dan berdoa agar hasil tembakaunya laku dengan harga tinggi. Harga
tembakau dengan sewenang-wenang ditentukan oleh perusahaan atau pemodal tanpa
diketahui oleh para petani, dan untuk menentukan harga, biasanya perusahaan
mengundang petani yang pro terhadap perusahaan tersebut dan itupun hanya
sedikit petani yang diundang. Biasanya, alibi yang digunakan oleh pemodal jika
ingin menentukan harga adalah faktor musim atau cuaca, jika cuaca saat menanam
tembakau itu mendukung, maka harga tembakau kemungkinan tinggi, begitu juga
sebaliknya jika cuaca buruk, maka harga tembakau akan menjadi anjlok. Padahal
barometer kualitas tembakau itu bukan dengan cuaca, banyak sekali tembakau yang
hasilnya bagus di saat cuaca buruk. Untuk menentukan kualitas tembakau itu dari
bibit tembakau itu sendiri, bila bibitnya bagus maka tak bisa diragukan lagi
akan melahirkan kualitas tembakau yang bagus pula. Praktek permainan harga kebanyakan
dilakukan oleh orang pribumi atau sesama saudara setanah air sendiri, karena
orang pribumilah yang lebih banyak mengerti dan mengetahui kondisi lapangan dibanding
bos-bos Asing (China) lainnya, sehingga dengan semena-mena mereka (pribumi)
mempermainkan saudaranya sendiri. Para pemodal yang pribumi sering membeli
hasil tanaman saudaranya sendiri dengan harga murah, hal ini berbeda dengan
pemodal asing, dia sering membeli tembakau para petani dengan harga yang
relatif tinggi, dan akhirnya mayoritas di mata para petani tembakau, mereka
lebih memilih menjual tembakaunya kepada pemodal asing, bukan kepada saudaranya
sendiri yang suka membuli, padahal mereka sering memakai peci.
Kedua, PPHP (Pemodal Pemberi Harapan Palsu). Para petani
tembakau yang hasil tanamannya tidak laku biasanya mereka menitipkan kepada
pemodal untuk dimasukkan (dijual) ke pabrik dengan kesepakatan biasanya pemodal
itu memberikan seperempat sampai setengah harga di pasaran kepada petani
tersebut. Dan yang terjadi mayoritas pemodal tersebut selalu mengatakan tidak
laku, padahal sebenarnya tembakau tersebut sudah masuk gudang (pabrik). Dan
praktek ini juga banyak dilakukan oleh pemodal pribumi sendiri.
Ketiga, subsidi pemerintah yang tidak berkualitas. Pemerintah
dalam hal ini kementrian pertanian memang punya keinginan yang baik untuk
memajukan pertanian di Indonesia, maka dari itu pemerintah sering memberikan
subsidi kepada para petani. Subsidi yang diberikan kepada petani khususnya
petani tembakau biasanya berupa pupuk dan bibit. Hal ini penulis tidak
menyalahkan pemerintah, akan tetapi kekurangan dari subsidi yang pemerintah
berikan kepada para petani tembakau selalu menggunakan sistem tender. Jika
sudah menggunakan sistem tender, maka harga yang termurah itulah yang akan
lolos dalam tender tersebut (diluar permainan pemerintah dengan pemenang
tender). Jika sudah begitu maka, yang menjadi korban tak lain adalah para
petani tembakau itu sendiri, karena bila subsidi (pupuk/bibit) murah, maka
bibit/puput tersebut akan berkualitas buruk dan nantinya akan berdampak pada
keburukan tembakau itu sendiri.
Itulah sekelumit “permasalahan
(Dramaturgi) yang tak jarang orang
mengetahui dan tak menyangka itu bisa terjadi (Transendental)” yang didera oleh para petani tembakau saat ini
dan mungkin sudah sejak dulu, oleh sebab itu sebagai penutup penulis ingin
memberikan sedikit masukan kepada pemerintah yaitu:
1. Untuk menghindari terjadinya permainan harga di kalangan elit pengusaha tembakau. Agar dibentuk PERDA/PERGUB tentang harga tembakau, supaya menjadi patokan bagi para bos-bos yang nakal. http://www.lombokpost.net/2015/11/25/harusnya-ada-perda-harga-tembakau/
2. Untuk menjaga kualitas tembakau, maka subsidi pemerintah (Kementrian Pertanian) tidak usah menggunakan sistem tender, lebih baik langsung di berikan kepada kepada desa masing-masing atau kepada kelompok tani masing-masing di setiap daerah.
1. Untuk menghindari terjadinya permainan harga di kalangan elit pengusaha tembakau. Agar dibentuk PERDA/PERGUB tentang harga tembakau, supaya menjadi patokan bagi para bos-bos yang nakal. http://www.lombokpost.net/2015/11/25/harusnya-ada-perda-harga-tembakau/
2. Untuk menjaga kualitas tembakau, maka subsidi pemerintah (Kementrian Pertanian) tidak usah menggunakan sistem tender, lebih baik langsung di berikan kepada kepada desa masing-masing atau kepada kelompok tani masing-masing di setiap daerah.

Comments
Post a Comment