Agak lucu sebenarnya kalau cerita
soal bagaimana saya bisa terdampar menjadi seorang abdi Negara ini (azzeek).
Bagaimana tidak, semenjak lulus kuliah, orang-orang di sekitar saya seperti
emak, mertua, istri dan sebagian kawan menyuruh saya agar segera ikut mendaftar
tes CPNS. Namun, berkali-kali pembukaan pendaftaran tes CPNS diumumkan, saya selalu
melewati dan mengabaikannya.
Jujur, dari dulu saya tak pernah memiliki syahwat sedikitpun ingin menjadi seorang Pi En Ice. Kalau bukan karena Corona kampret yang 2 tahun lebih tak kunjung selesai itu, mungkin saya nggak akan ada di posisi ini. Tapi ya sudahlah. Sebagaimana sudah saya katakan di pembukaan tulisan ini, saya selalu bersyukur sudah berada di posisi zona super nyaman tapi sangat berbahaya bagi perkembangan motorik otak yang semakin jumud tak berkembang ini.
Tak bermaksud ingin menyudutkan salah satu pihak dan membanding-bandingkan, hanya ingin berkeluh kesah dan sharing melalui tulisan. Siapa tau ada orang yang merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan saat ini. Jumud, mandek, mentok dan jalan di tempat. Pelan-pelan, zona super nyaman sebagai seorang Pi En Ice ini menggerogoti sendi-sendi otak saya. Sehingga ide, gagasan dan inovasi susah sekali melintas di pikiran. Jadi herman saya.
Indah betul kalau mengenang
masa-masa produktif dulu saat masih mengais rezeki di berbagai perushaan swasta.
Betapa gampangnya saya dulu menuangkan ide dan gagasan ke sebuah tulisan. Dalam
sehari, Muhammad Rasyidi yang ganteng tiada tanding dan tiada banding ini, bisa
menulis opini, artikel atau bahkan berita, 5 sampai 10 tulisan. Tapi sekarang, hal
itu seperti hal yang mustahil untuk diwujudkan kembali. 1 tulisan bisa selesai
dikerjakan berhari-hari. Termasuk tulisan yang nggak jelas ngalur-ngidul
kemana-mana ini.
Lagi-lagi tak bermaksud ingin menyalahkan
posisi saya sebagai seorang Pi En Ice atas hadirnya kejumudan dan kemandekan
otak ini. Mungkin lebih tepatnya adalah, pola dan sistem kerja yang ada di Pi
En Ice, seperti Bainas Sama’ was Sumur (antara langit dan sumur) bila dibandingkan
dengan sistem kerja yang ada di perusahaan-perusahaan swasta. Kalau mayoritas
pekerjaan di perusahaan-perusahaan swasta penuh dengan tekanan dan tuntutan
yang berdampak pada penghasilan, di Pi En Ice, hal demikian nyaris tidak akan
ditemukan. Pun jika kebanyakan JobDesk di perusahaan-perusahaan swasta
adil dan merata ke semua karyawan sesuai pendapatan, yang terjadi di Pi En Ice
justeru sebaliknya. Gajinya sama, kerjaannya beda-beda.
Mungkin inilah penyebabnya. Karena kebetulan posisi saya saat ini sebagai seorang Pi En Ice yang kerjaannya tak begitu berat, banyak waktu luang, bahkan, ya mungkin juga sering berleha-leha (wkwwk), saya jadi terbiasa bersantai-santai, jarang mengasah otak dengan membaca buku dan menulis. Akibatnya, otak jadi tumpul dan buntu. Ide sering mandek dan mentok. Menulis 1 artikel susahnya minta ampun. Saya jadi keenakan di zona nyaman. Sialan!
Ciracas, 23 Februari 2025




Comments
Post a Comment