DEKONSTRUKSI WACANA “MADESU”
Oleh: Muhammad Rasyidi
Terasa bising
mungkin telinga seorang mahasiswa bila niat lurusnya dari kampung ke Jakarta
hanya ingin menuntut ilmu dan sesampai di Jakarta tiba-tiba mendengar kata “MADESU”
alias Masa Depan Suram, kata ini secara tidak langsung akan meneteskan
secercah pesimisme pada diri mahasiswa itu sendiri dan akan menghilangkan jati
diri seorang mahasiswa, karena dengan kata tersebut akan mematahkan semangat
seorang mahasiswa apabila Jurusan yang sudah ia pilih ternyata mengalami
“status Quo”. Dalam tulisan sederhana ini penulis akan menanam sedikit demi
sedikit benih-benih optimisme dan membangkitkan gairah mahasiswa Tafsir Hadis
Khususnya dan mahasiswa Ushuluddin pada umumnya, agar mereka tetap merasa
bangga pada jalan ia pilih.
Quo Vadis Jurusan Tafsir Hadis
Tafsir Hadis
adalah sebuah jurusan yang biasanya berada pada kampus-kampus Islam di bawah
naungan Fakultas Ushuluddin. Namun jurusan ini seakan mengalami krisis trust
baik dari kalangan pemerintah maupun dari kalangan masyarakat, karena jurusan
ini memang sedikit mempunyai peluang kerja baik di sekolah-sekolah atau di
instansi manapun, padahal jurusan ini juga mempunyai hak otoritas untuk
mengajar pelajaran yang berbasis agama di sekolah-sekolah Islam dan dari segi
keilmuanpun mungkin jurusan Tafsir Hadis juga tak kalah saing dengan
Jurusan-Jurusan lain yang berbasis agama, karena jurusan ini memang concern
pada bidan kajian khazanah klasik dan ilmu-ilmu keagamaan.
Namun ini semua
hanya sebatas tiupan angin yang menyapa dengan kecepatannya sehingga tak
terlihat oleh mata. Mahasiswa Tafsir Hadis selalu dipandang sebelah mata oleh
pemerintah sehingga tak heran dan tak bisa dipungkiri bila seorang mahasiswa
yang hendak mendaftarkan dirinya di kampus-kampus Islam selalu mencantumkan
jurusan Tafsir Hadis ini pada pilihan kedua.
Memang inilah
nasib kita. Jangankan menyediakan lapangan kerja bagi alumni Tafsir Hadis,
masalah gelar saja sampai saat ini tak
pernah menemukan titik temu, antara satu kampus dengan kampus yang lainnya
gelarnyapun berbeda, di UIN Sunan Ampel dan UIN Alauddin Makasar misalnya dari
tahun 2012 kemaren sudah menggunakan gelar S. Ud (Sarjana Ushuluddin) dan di
Kampus UNSIQ Wonosobo juga berbeda, mereka menggunakan gelar SQ (Sarjana
al-Qur’an), sedangkan di kampus kita ini masih tetap merasa gagah dengan gelar
S. Th. I (Sarjana Theologi Islam), entah hal ini apakah ada rekomendasi khusus
dari pemerintah terkait perbedaan gelar ini atau hanya sebatas testing belaka.
Belakangan ini
juga muncul isu tentang pemisahan jurusan antara Tafsir dan Hadis. Masalah ini
juga telihat tidak serempak dan tidak kompak, antara kampus satu dengan yang
lainnya sudah ada jurusan yang dipisah antara Tafsir dan Hadis dan adapula
kampus yang masih tetap merasa nikmat dengan jurusan Tafsir Hadisnya. Di UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta dari Tahun ajaran baru kemarin sudah dipisah antara
Tafsir dan Hadis sedangkan di kampus kita ini masih tetap duduk manis menikmati
jurusan Tafsir Hadis.
Penulis merasa
bertanya-tanya akan hal ini semua. Apa kontribusi pemerintah khususnya
Kementrian Agama kepada jurusan Tafsir Hadis ini, sehingga selalu mengotak atik
gelar maupun jurusan yang sudah setengah baya ini??
Mungkin itulah
sebagian masalah yang melanda jurusan Tafsir Hadis yang sampai saat ini juga belum
kunjung selesai, baik masalah yang terkait dengan gelar ataupun pemisahan
antara jurusan Tafsir dan jurusan Hadis. Kemanakah jurusan ini akan dibawa oleh
pemerintah yang terpenting adalah tanggung jawab seorang mahasiswa tetap
tertanam kuat dalam dirinya.
Anda tersesat di Jalan Yang Benar
“anda tersesat di
jalan yang benar”. Terinspirasi dari
kata ini, rasanya pantas apabila pepatah ini dilontarkan kepada segenap civitas
akademika Jurusan tafsir Hadis, dimana mungkin mayoritas Mahasiswa yang masuk
di Jurusan Tafsir Hadis secara terpaksa dan juga mungkin mayoritas mahasiswa
yang diterima di Jurusan ini adalah pilihannya yang kedua. Mereka-merekalah
yang tersesat bagai orang yang masuk hutan
dan merasa kebingungan karena tidak ada jalan lain yang harus ia lewati
kecuali hutan itu, dengan secara terpaksa orang tersebut tetap melewati hutan
itu.
Akan tetapi,
janganlah anda merasa pesimis sekalipun anda telah tersesat, di ujung hutan
belantara sana ada panorama indah yang akan anda dapati dan tak pernah anda
lihat sebelumnya, sehingga bila anda menatapnya seakan anda terpana diam tanpa
kata. Mengapa tidak, jurusan Tafsir Hadis ini adalah jurusan yang multifungsi
dan mahasiswanyapun multi talenta, terbukti sekalipun jurusan yang sudah
setengah baya selalu didiskreditkan oleh pemerintah, para alumninya telah
melalang buana ke berbagai instansi-instansi negeri maupun swasta, baik para alumni
yang duduk manis di gedung Megah Senayan sana (DPR) atau pengamat-pengamat
politik, dan bahkan di kementrianpun alumni Tafsir Hadis selalu mencicipinya.
Prof. Dr
Nazaruddin Umar, M. A selaku wakil Mentri Agama dan guru besar Fakultas
Ushuluddin, beliau terlahir dari benih jurusan Tafsir Hadis, begitu juga dengan
Prof. Dr Said Agil Munawwar, M. A yang juga sebagai Guru besar Fakultas
Ushuluddin pernah mendapat jatah sebagai Mentri Agama dulu. Di ranah politik misalnya,
adalah Afifuddin S. Th. I alumni Tafsir Hadis yang sekarang mengabdi di Komisi
Pemilihan Umum (KPU), dan pemimpin Ormas-Ormas Islam juga banyak yang terlahir
dari Rahim Jurusan Tafsir Hadis atau dari Fakultas Ushuluddin ini, seperti Dr.
Din Syamsudin yang sekarang masih tetap memimpin Ormas Islam Muhammadiyah, dan
masih banyak lagi alumni-alumni Tafsir Hadis yang sukses di luar sana.
Namun hal ini
semua akan menimbulkan tanda Tanya besar, kenapa Jurusan yang selalu didiskreditkan
oleh pemerintah ini, para Alumninya banyak yang menjadi orang-orang besar?. Semua
ini tidak lepas dari tanggung jawab seorang mahasiswa yang sudah penulis
sebutkan di atas. Seorang mahasiswa harus tetap teguh pendirian, tetap mengeratkan
kepalan tangannya dan jangan pernah berfikir setelah lulus anda mau kemana.
Buku dan menulis harus tetap selalu menjadi santapan utamanya dan juga
kebiasaan diskusi harus selalu tetap menjadi agenda rutinitasnya. Itulah tugas
dan tanggung jawab seorang mahasiswa yang harus selalu terpatri dalam dirinya.
Dekonstruksi Wacana “MADESU”
Para tokoh besar penggerak bangsa made in Tafsir Hadis di atas
tadi, apabila kita amati memang ada beberapa alumni setelah lulus kemudian
bekerja ada yang tidak linier dengan jurusan yang diambil sewaktu kuliah dulu.
Maka dari itu, meminjam Bahasa abang Iwan Fals dalam salah satu iklan kopi “Bongkar
Kebiasaan Lama” artinya, yang semula kita apatis dengan kebiasaan membaca,
diskusi, menulis. Hal ini harus dibongkar besar-besaran, harus diputar balik
menjadi 180 derajat, harus bertaubat dan kembali kepada kebiasaan yang benar,
agar para mahasiswa yang tersesat tadi, benar-benar menemukan panorama yang tak
sekedar fatamorgana, agar menjadi mahasiswa aktif bukan mahasiswa pasif, agar
wacana Masa Depan Suram menjadi Masa Depan Sukses.
Masa depan mahasiswa di jurusan manapun, itu berada pada diri
mereka sendiri, tangan-tangan merekalah yang menetukan masa depan mereka
masing-masing, mahasiswa mempunyai hak otoritas masing-masing terhadap masa
depan mereka sendiri. Bagaimana dan seperti apa mahasiswa tersebut menggapai
masa depannya itu tergantung dari kinerja dan aktifitasnya selama menjadi
mahasiswa. Jika yang ia kerjakan hanya sebatas canda, tawa, nangkring alias
nongkrong, atau futsal (olahraga) yang berlebihan, dan lain sebagainya, maka
yang akan ia dapat tak akan melebihi dari itu. Akan tetapi, masa depan suram
akan berputar dan berbalik arah, bila seorang mahasiswa selalu bertanggung
jawab terhadap masa depannya sendiri dengan mengerjakan hal-hal yang positif
dan bermanfaat serta mengaplikasikan apa yang telah ia dapat selama dibangku
kuliah.
Maka dari itu,
tepaplah semangat, tetaplah bergerak karena diam itu mati, tetaplah melangkah
di jalan yang benar. Katakan anda tidak pernah kenal dan tidak pernah berjumpa
dengan yang namanya “Masa Depan Suram”………!!!.
Sekian terima kasih……

Comments
Post a Comment