Nak….!! setelah lulus nanti kamu
kuliahnya di STAIN Kediri aja yah, ibu dan bapak khawatir terjadi apa-apa kalau
evi kuliahnya jauh-jauh
Begitu
tutur orang tua evi saat kedua orang tuanya mengirim Evi di Pondok Pesantren
Darul Muttaqien, di penjara suci tempat Evi menuntut ilmu.
Evipun yang saat itu sudah kelas
akhir di Pesantrennya merasa kebingungan setelah mendengar nasehat mulia dari
orang tuanya tersebut, bak orang yang disuguhi jamu dan susu dan merasa kebinguangan
yang manakah yang akan dia minum, sebab dia sudah mempunyai tekak kuat untuk
melanjutkan studinya ke salah satu universitas favoritnya, dengan kegemarannya
akan ilmu-ilmu agama yaitu Universitas Islam Negeri Syarif Hidayaatullah
Jakarta.
Hari demi haripun ia lewati dengan
penuh semangat di Penjara suci, agar ia bisa cepat lulus dan bisa lulus dengan
hasil yang memuaskan. Ujian akhirpun sudah di depan mata dan Evi jarang keluar
kamar, karena ia harus fokus untuk mempersiapkan ujian akhirnya.
Alhamdulillah berkat kesemangatannya
iapun lulus dengan predikat “mumtaz” di pesantrennya. Dengan wajah
berseri ia pulang ke rumahnya dan memberikan kabar gembira kepada kedua orang
tuanya, karena ia telah lulus dengan predikat mumtaz.
Kebingungan dan kegalauan telah
melandanya yang sedang dilema, dimana, ia merasa takut dikatakan tidak taat
kepada orang tua, karena dia disuruh orang tuanya untuk kuliah di dekat
rumahnya, sedang ia sangat ingin melanjutkan studinya di Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta seperti kakak kelasnya yang juga kuliah di
sana.
Dengan keberaniannya, ia mencoba
menghampiri ibunya dan menceritakan keinginan yang ia simpan di dalam lubuk
hatinya.
Evi :
ibu…..
Ibu :
iya nak, Evi sudah shalat…??
Evi :
Alhamdulillah sudah ibu
Ibu :
oh… syukurlah kalau begitu nak…
Dengan rasa tegang, Evi menghela
nafas dalam-dalam dan mengucapkan bismillah dalam hatinya agar curahan
hatinya bisa diterima oleh ibunya.
Evi :
ibu, evi boleh cerita gak….??
Ibu :
silahkan nak, mau cerita apa…??
Evi :
ibu… ada kakak kelas Evi dia orangnya pinter waktu di pondok dulu, sekarang dia
sudah kuliah.
Ibu :
kuliah dimana nak…??
Evi :
sekarang dia sudah semester tiga kuliah di Jakarta ibu, dia sangat aktif di
organisasi dan juga sering keluar daerah untuk mengikuti acara-acara penting
yang diakan di luar kampusnya.
Ibu :
oh… gitu, Evi juga harus lebih dari anak itu. Carilah ilmu kemana yang Evi mau,
agar kelak nanti bisa menjadi orang yang berguna bagi keluarga, masyarakat,
Nusa dan bangsa.
Evi :
iya ibu, dengan doa’ dan restu ibu, Evi akan berusaha dengan seluruh kemampuan
Evi, agar bisa menjadi seperti apa yang ibu ucapkan tadi. Dengan segala ta’dzim
dan memohon restu ibu, Rasanya Evi juga ingin melanjutkan studi ke sana.
Ibu :
tadi malam, ibu sempat membicarakan masalah itu sama bapakmu nak, dan bapak
juga bilang, terserah Evi mau melanjutkan studinya kemana aja, asalkan Evi bisa
menjaga diri baik-baik dan selalu ingat usaha orang tua di sini yang susah
payah mencari nafkah untuk biaya kuliah Evi.
Dengan rasa lega dan tenang Evipun
bersyukur dan langsung memeluk ibunya, tak terasa cucuran air matapu jatuh dari
matanya.
Tepat seminggu setelah Evi meminta
restu kepada ibunya, iya berangkat ke Jakarta untuk menuntut ilmu di
Universitas dambaannya Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dan Evipun Alhamdulillah diterima di Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin.
Awal perkuliahan, ia terpana tanpa
sekalipun kedipan mata saat melihat sekelompok mahasiswa yang berjalan sambil
bercanda ria kemudian duduk bersama sambil berdiskusi, dan di sana terpampang
sebuah banner berukuran kecil yang bertuliskan “Masa Perkenalan Anggota Baru
(MAPABA) PMII KOMFUSPERTUM” dengan tema yang mereka tulis pada banner
tersebut “Menanamkan jiwa Nasionalis, Religius dan Idealis” dengan
dihiasi gambar sosok Gusdur, dimana Gusdur memang tokoh dambaan dan tokoh
favorit Evi sewaktu ia di Pesantren dulu.
Kemudian
Evi melanjutkan lambaian tangannya ke lantai 3 untuk mengikuti perkuliahan.
Sesampai di kelas, evi masih teringat dengan sekelompok orang yang sedang
berkumpul dan sambil berdiskusi tadi, Evipun kurang konsentrasi mendengarkan
penjelasan mata kuliah yang diterangkan oleh dosen, karena dalam fikirannya
masih terngiang gambar sosok Gusdur seperti apa yang sudah ia lihat di banner
sebelum ia masuk kelas tadi.
Setelah
mengalami kegelisahan dan rasa penasaran, Evi menanyakan kepada sekelompok
orang yang sedang berkumpul tadi setelah ia keluar kelas. Namun ada seorang
lelaki yang terlihat antusias untuk menyambut Evi dan semangat untuk menjawab
pertanyaan Evi tersebut, dengan tebar pesona seakan lelaki itu ingin
mendekatinya, Evipun bertanya kepada lelaki itu.
Evi : kak…!! Mau Tanya nih, Ini ada acara apa
yah…??
Kakak : oh iya dek silahkan duduk, ini ada acara
pelatihan untuk mahasiswa baru. Kita ini adalah anggota oraganisasi yang
bernama PMII, adek kalau mau ikut silahkan daftar aja.
Evi : oh iya kak, Boleh…boleh….. Evi daftar
yah….!! Gratis gak?
Kakak : untuk pelatihan ini dikenakan Rp. 15. 000,
dengan fasilitas penginapan selama 3 hari, makan, serta sertifikat dan
transportasi. Pelatihannya Dari tanggal 19-21 September bertempat di Bogor
Puncak dek….
Evi : oh iya kak Evi daftar. Makasih ya kak,
yaudah Evi Pulang dulu. Assalamualaikum…
Kakak : iya dek sama-sama, Waalaikumsalam, semangat
yah….!!
Setelah
ia bertanya dan mendaftar acara yang tercantum pada bener tadi, iya merasa lega
dan merasa gembira sekali, karena dengan ia daftar di organisasi yang tadi ia
ikuti akan menjadi langkah awal bagi Evi, untuk menyalurkan apa yang ia dapat
selama di pesantren dulu dan menggali ilmu serta pengalaman yang terdapat di
PMII.
Hari
demi hari ia lewati, dengan segala aktifitasnya satu persatu Evi mulai kenal
dengan teman-teman sesama mahasiswa baru, saling bercanda ria dengan teman
barunya, serta saling silaaturrahmi ke kosan teman-temannya. Namun hal itu
semua tak terasa ternyata esok harinya adalah tanggal 19, dimana Evi harus
mengikuti acara MAPABA yang sudah ia daftar dari jauh-jauh hari. Dengan itu Evi
bersiap-siap dan mengkemas semua barang-barangnya untuk bekal ganti baju saat
MAPABA nanti.
Gemuruh
angin, seramnya langit, seketika itu tampaknya akan turun hujan, namun hal itu
tak mengurangi tekad bulat yang sudah Evi Genggam, iapun tetap melangkahkan
kakinya ke Bestmen Fakultas Ushuluddin tempat seluruh peserta MAPABA berkumpul
sebelum berangkat. Ke puncak tempat MAPABA akan dilaksanakan.
Sesaat
Evi sampai di Bestment Ushuluddin, ia melihat banyak dari teman-temannya yang
juga ikut acara tersebut, Evipun menghampirinya dan menyalami teman-teman
barunya yang ia kenal. Kemudian semuan teman-temannya mulai menaruh barang
bawaannya ke dalam mobil TNI yang mentereng dan berjejer di depan Fakultas
Ushuluddin seakan ingin pergi ke medan perang melawan tentara FBI, dan satu
pesatu semua peserta MAPABA menaiki mobil seksi tersebut, setelah semua peserta
telah menaiki mobil para peserta mulai berangkat menuju lokasi acara.
Sesampai
di lokasi MAPABA Evi serasa terpana dengan bertengadah melihat keindahan Puncak
Bogor yang mengingatkan dia di kampung halamannya. Semilirnya angin dan
sejuknya cuaca membuatnya semakin beresemangat untuk mengikuti acara MAPABA
tersebut.
Dengan
kesederhanaan dan kebersamaan seakan semua peserta MAPABA adalah keluarga Evi sendiri.
Dengan kertas yang digelar sepanjang lapangan hanya digunakan sebagai alas
makan. Campuran kerupuk emas dan kritingnya mie instan membuatnya merasakan
benarnya adagium “al-barokatu ma’al jama’ah”. Evi merasa terharu
dan merasa mempunyai amanah besar yang ia emban dari Mbah Khasyim Asy’ari untuk
membesarkan Nahdhatul Ulama yang beliau dirikan.
Di
lokasi MAPABA ada hal yang membuat Evi tersenyum dan bertanya. Karena di antara
salah satu seniornya ada yang benar-benar mirip dengan artis sekaligus penyanyi
yang ia favoritkan yaitu Judika. Wajahnya memang mirip, hanya badannya
yang mungkin perlu ditarik agar agak lebih tinggi sedikit. Evi selalu tersenyum
saat ia melihat kakak seniornya tersebut yang mungkin mirip Judika “KW2”. Tapi,
senyuman dan rasa penasarannya seakan berkurang dan tergantikan dengan rasa
kaget setelah Evi mengetahui bahwa orang yang selalu ia senyumi diam-diam
ternyata adalah Presidennya sendiri, yaitu Presiden BEMJ Tafsir Hadis.
Kebersamaan,
kekeluargaan dan kekompakan seakan tergantikan dengan kesedihan, karena acara
MAPABA sudah tinggal hitungan jarum jam lagi. Penutupan MAPABApun sudah
dilaksanakan. Semua peserta berada di ruangan untuk mengikuti acara penutupan.
Dan satu hal lagi yang membuat Evi terharu, dimana, saat lantunan keindahan
Mars PMII dinyanyikan dengan seksama, seakan ruh KH. Khasyim Asy’ari
benar-benar merasuk dalam jiwa Evi dan seakan ruh KH. Khasyim sedang melihat
antusias anak-anaknya. Sungguh merdunya lagu itu, sungguh syahdunya lagu itu.
Saat mendengarkannya sambil mengenang bagaimana perjuangan ulama-ulama
Nahdhiyyin dulu memperjuangkan berdiri dan tegaknya bendera Nahdhatul Ulama’.
Setelah
penutupan, semua peserta mengemas barang-barangnya dan membawanya ke dalam
mobil. Dan setelah semua berada di dalam mobil beranjaklah mobil eksotis itu ke
kota perjuangan yakni Ciputat alaihissalam.
Kesedihan
yang melanda Evi saat meninggkalkan teman-temannya, ternyata hal itu semua
hanya sekejab saja. Evi berprasangka bahwa teman-temannya akan berpisah dan
tidak akan berkumpul lagi. Ternyata prasangka itu hanyalah sekejap melintas di
benak Evi. Saat di ciputatpun peserta dan panitia serta para senior selalu
berkumpul. Ziarah bersama ke luar batang, jalan bersama dengan kuda besi yang berjejer
bak orang yang lagi konvoi kampanye CAPRES, denga bendera kuning sangsaka PMII
yang selalu dibawa kemanapun Evi jelan bersama dengan temannya di PMII
KOMFUSPERTUM. Makanpun juga masih ala MAPABA. Evi merasa tak bosan makan
kerupuk emas dengan kritingnya mie Instan, semua itu terasa nikmat di dahaga.
Ngecrek bersama, tahlilan setiap malam jum’at serta diba’an, saling membantu
antar teman yang lagi terkena musibah, takziyah bersama ke rumah temannya yang
lagi terkena musibah, silaturrahmi ke komisariat fakultas lain dengan
mendatangi lokasi MAPABA yang dari komisariat lainnya.
Semua
hal itu Evi rasakan dengan sangat gembira dan bangga menjadi kader PMII,
kekhawatiran dan ketakutan tak pernah melintas dalam dirinya, karena sekalipun
ia adalah perempuan Evi merasa banyak teman yang selalu melindunginya dan
menganggap Evi seperti keluarganya sendiri, begitu juga sama halnya yang
dirasakan dengan teman perempuan Evi lainnya.
Evi
merasa ada bingkisan khusus yang sengaja dipaketkan oleh pos dari surga, karena
semua yang ia rasakan adalah kesemangatan hidup, kebersamaan serta kekeluargaan.
Dan bingkisan itu telah Evi dapatkan dan telah Evi genggam di sebuah kampung
sederhana namu bisa membuat orang terpana, kampung para pejuang namun bisa
membuat orang menjadi tercengang, yaitu di KAMPUNG PERGERAKAN MAHASISWA
ISLAM INDONESIA (PMII)….
Sekian
terima kasih……

Comments
Post a Comment