Skip to main content

GARUK KEPALA, PADAHAL TAK ADA KUTU DI KEPALA



Kalimat syukur tak lupa ku panjatkan kepada Allah Semata saat aku melihat namaku tercantum dalam daftar peserta yang lulus beasiswa BLU di Fakultas Ushuluddin Jurusan Perbandingan Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tak lupa pula kubersimpuh dan bersujud atas nama Syukur kepada-Nya.
Dengan perasaan riang dan gembira kulengkapi semua persyaratan yang telah diperintahkan oleh panitia OPAK Fakultas Ushuluddin, mulai dari disuruh membawa tanaman dan memakai aksesoris khas Ushuluddin sebagaimana aksesoris khas Mahasiswa Baru di Fakultas lainnya.
Perlahan, tanpa kusadari hatiku bertanya untuk apa semua itu??, tapi pertanyaan itu aku anggap bak angin yang hanya menyapa.
Adapula kakak panitia yang menyodorkan kertas berisi lagu yang wajib dihafalkan oleh semua Mahasiswa Baru. Pelan-pelan dengan perasaan gembira aku hafalkan lagu itu.
Tapi, hatiku mulai bertanya lagi saat aku mengikuti upacara OPAK di lapangan UIN Jakarta, kenapa mayoritas lirik lagu dari berbagai fakultas hampir saja sama, mulai dari nada dan kalimatnya?? “Ushuluddin Dakwah kita saudara” “Syari’ah hitam, Tarbiyah hijau”. Ada apakah itu?? Dan warna apakah itu??
Demikian pula mengapa saat aku mengikuti rangkaian acara OPAK seharian tanpa ada makanan kecuali segelas air saat upacara di lapangan??, padahal teman-temanku di Fakultas lain, mereka semua mendapat suguhan makanan dari panitia.
Yang paling lucu, saat kulihat ada salah satu panitia yang katanya dia adalah Presiden Jurusan Tafsir Hadits, selalu merebut mic dari kakak yang agak berbibir hitam. Siapakah yang berhak memegang mic itu?? Dan siapakah yang berhak mempunyai kesempatan berbicara di depan mahasiswa baru??
Dan yang paling mengiang dalam benakku, mengapa Presiden Jurusanku tak pernah kulihat keelokan wajahnya dan berbicara di depan Mahasiswa Baru lainnya??, atau Presiden Jurusanku bagai Harimau yang sengaja Panitia ikat agar tak menggigit mangsanya??.
Kemanakah Presidenku….??
Yatimkah aku….??
Atau, dibohongikah aku….??
Maka, garuk-garuklah aku…..

Comments

Popular posts from this blog

Dosen Dianiaya, Dekan Apatis

Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh seorang mahasiswa Tafsir Hadis Semester IV kepada Dosen Ulumul Al-Qur’an pada Rabu 8 Mei 2013 yang lalu, perbuatannya telah melanggar kode etik mahasiswa yang telah ditetapkan oleh Rektorat. Jika mengacu pada kode etik mahasiswa, pihak yang melakukan kekerasan seharusnya diberikan sanksi sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. Mahasiswa yang melakukan hal tersebut, seharusnya dikenakan sanksi sesuai dengan keputusan Rektorat Nomor : 07 A Tahun 2002, yang terdapat pada pasal 7 Bab IV (Tentang Pelaksanaan Tindakan Disiplin) dan   Bab V (Tentang Jenis Pelanggaran) pasal 9 huruf a, pasal 9 huruf b, pasal 9 huruf g, dan pasal 9 huruf m. Namun, kami atas nama “Aliansi Mahasiswa Anti Kekerasan” mengamati kasus tersebut tidak diselesaikan secara tuntas dan radikal, bahkan pihak Dekan tidak peduli atas kasus yang telah merambah sampai hampir satu bulan lebih. Padahal, seorang pemimpin seharusnya memiliki sifat cepat tanggap (peka/cekatan...

SEPOTONG SURGA DI “KAMPUNG PERGERAKAN”

            Nak….!! setelah lulus nanti kamu kuliahnya di STAIN Kediri aja yah, ibu dan bapak khawatir terjadi apa-apa kalau evi kuliahnya jauh-jauh Begitu tutur orang tua evi saat kedua orang tuanya mengirim Evi di Pondok Pesantren Darul Muttaqien, di penjara suci tempat Evi menuntut ilmu.             Evipun yang saat itu sudah kelas akhir di Pesantrennya merasa kebingungan setelah mendengar nasehat mulia dari orang tuanya tersebut, bak orang yang disuguhi jamu dan susu dan merasa kebinguangan yang manakah yang akan dia minum, sebab dia sudah mempunyai tekak kuat untuk melanjutkan studinya ke salah satu universitas favoritnya, dengan kegemarannya akan ilmu-ilmu agama yaitu Universitas Islam Negeri Syarif Hidayaatullah Jakarta.             Hari demi haripun ia lewati dengan penuh semangat di Penjara suci, aga...