Skip to main content

Kemana Aja? Begini Ceritanya


Sebab, rebahan saat week end adalah aktivitas yang amat mengenakkan. Bila disatukan dengan kemalasan, niscaya akan menjadi kekuatan yang tak terkalahkan. Ratusan, bahkan mungkin ribuan minggu sudah saya lewati. Tanpa sadar, ternyata saya sudah tidak  membersamai blog ini bertahun-tahun lamanya.

Maafkan atas kekhilafan saya ini, Blog. Saya berjanji, setelah ini, saya akan senantiasa setia membersamaimu kembali. Akan aktif menulis, menemani dan mendandanimu kembali, agar terlihat mempesona dan banyak dikunjungi pembaca. Semoga.

Sebenarnya, bukan tanpa alasan saya menerlantarkan blog ini. Setelah lulus kuliah, saya disibukkan dengan urusan pertahanan perut dan seisinya. Ya, bertahan di Ibu Kota dengan skill yang apa adanya, ditambah dengan jurusan saya saat kuliah yang banyak orang meragukan, bukanlah perkara mudah, Brader. Dibutuhkan kekuatan ekstra dan cucuran keringat lebih banyak dibanding fresh graduate-fresh graduate lainnya.

Supaya ada asupan semangat untuk kembali aktif menulis di blog ini, agaknya, akan lebih seru kalau saya bercerita soal perjalanan hidup di Ibu Kota setelah lulus kuliah. Itung-itung sebagai penebus dosa karena telah menerlantarkan blog ini bertahun-tahun lamanya. Tentunya, cerita ini akan saya ceritakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dan ala kadarnya.

****

Oke. Saya akan bercerita tentang pengalaman kerja dari akhir tahun 2015, dimana saat itu saya memang baru lulus kuliah. Tepatnya, tanggal 4 Desember 2015, alhamdulillah saya dinyatakan diterima bekerja di sebuah perusahaan media. Saat wawancara kerja, saya menunjukkan beberapa tulisan yang ada di blog ini. Meski wujuuduhu ka 'adamihi (keberadaannya sama dengan ketiadaannya), blog ini justeru menyelamatkan saya. 2 tahun 8 bulan saya mengadu nasib di perusahaan media - yang katanya – The Largest Media Company in South Asia ini. Saya belajar banyak hal dari perusahaan ini. Mulai dari mengelola social media, website, hingga hal ikhwal dunia per-buzzer-an politik di jagat mayantara. Belajar personal branding, mengorbit panutan sekaligus menjatuhkan lawan. Tahu beberapa tools untuk social media semacam Twitdeck dan Chirpstory, juga kenal beberapa media publisher seperti; Kompasiana, Indonesiana, Kumparan, Kaskus, Forum Detik, dan lain sebagainya.

Setelah hampir 3 tahun saya bekerja di perusahaan media, alhamdulilah, tahun 2018 saya mendapat kesempatan bekerja di sebuah perusahaan start up, dimana saat itu perusahaan start up adalah dambaan banyak pekerja dan pejuang Ibu Kota. Lagi-lagi saya banyak belajar di perusahaan start up ini. Kenal yang namanya SEO, SEM, dan sedikit banyak dunia Digital Marketing. Meski hanya setahun bekerja, dari sini saya juga tahu beberapa tools digital marketing seperti; Sendingblue, Neil Patel, One Signal, Later, dan lain sejenisnya.

September 2019 saya pindah kantor lagi di sebuah perusahaan Financial Technology (PinJol). Tapi ini legal lho, ya. Resmi dan diawasi OJK. Bukan perusahaan pinjol abal-abal dan illegal. Hehe. Lagi-lagi alhamdulillah, dari perusahaan ini saya banyak belajar dunia social media care (pelayanan pelanggan melalui social media). Dari perusahaan ini juga saya baru sadar betapa pentingnya pelayanan terhadap pelanggan (customer service). Memang benar kata orang, bahwa "pelanggan adalah raja". Sama dengan pengalaman saat bekerja di perusahaan media, di perusahaan Fintech ini saya bertahan selama 2 tahun 8 bulan.

FYI, dari sekian pengalaman kerja yang saya alami, tak ada satupun pekerjaan yang relate dengan jurusan saya saat kuliah. Tapi saya tetap bersyukur, dari pengalaman kerja inilah akhirnya saya banyak tahu ilmu, yang tentunya sama sekali tidak dipelajari saat di bangku kuliah.   

Oke lanjut. Kita geser ke Awal tahun 2020, dimana Indonesia dihebohkan dengan munculnya virus Covid19. Kita tahu betul betapa ngerinya dampak dari virus yang ngeselin ini. Semua sektor terkena dampak, dan tentunya juga merembet ke banyak perusahaan, tak terkecuali perusahaan Fintech yang saat itu saya masih bekerja di sana. Banyak teman-teman kantor saya berguguran, terkena pemutusan kerja (PHK). Selama lebih dari 2 tahun Covid19 berkeliaran di Indonesia, ada 3 gelombang PHK di perusahaan Fintech ini. Meski saya selalu selamat dari rentetan gelombang PHK tersebut, tapi saya tetap dag dig dug dan tidak tenang, khawatir jika suatu saat muncul gelombang PHK massal berikutnya.

Di tengah perasaan tidak tenang akibat maraknya PHK besar-besaran tersebut, tiba-tiba muncul informasi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2021. Dengan modal nekat dan setengah nggak niat, saya mencoba mendaftar CPNS. Waktu itu bingung mau ambil formasi apa, karena memang tak banyak pilihan formasi yang tersedia untuk jurusan saya. Akhirnya, demi bangsa, negara dan keluarga, saya memutuskan memilih formasi Penghulu di Kementerian Agama. Tak dinyana, meski modal nekat dan seperempat nggak niat, bocah kampung dari ujung pulau Madura ini diterima sebagai Abdi Negara angkatan 2021.

Sungguh, dunia pertahanan perut di Ibu Kota setelah lulus kuliah itu amat keras dan ngeri, Brader. Tapi nggak usah khawatir. Tetap ikhtiar dan selalu berdoa. Yakinlah, Brader! Tuhan pasti mempersiapkan jalan untuk kita. Hanya saja, mungkin saat ini jalannya masih becek, banyak kerikil dan bebatuan karena belum diaspal. Begitu.


                                                                                                                                                      Ciracas, 26 Juni 2022

Comments

Popular posts from this blog

Mampus Aing! Dikoyak-koyak Zona Nyaman

Saya selalu bersyukur atas nikmat yang sudah Allah berikan kepada saya hingga berada di titik ini. Kendati demikian, jujur saja, tak ada sedikitpun bayangan bisa berada di titik ini, apalagi di titik nikmat berupa sebuah pekerjaan dimana banyak orang yang mendambakannya ( meskipun saya biasa aja sih wkwk ). Ya, saat ini saya adalah seorang Pi En Ice di sebuah Kementerian. Agak lucu sebenarnya kalau cerita soal bagaimana saya bisa terdampar menjadi seorang abdi Negara ini ( azzeek ). Bagaimana tidak, semenjak lulus kuliah, orang-orang di sekitar saya seperti emak, mertua, istri dan sebagian kawan menyuruh saya agar segera ikut mendaftar tes CPNS. Namun, berkali-kali pembukaan pendaftaran tes CPNS diumumkan, saya selalu melewati dan mengabaikannya. Jujur, dari dulu saya tak pernah memiliki syahwat sedikitpun ingin menjadi seorang Pi En Ice. Kalau bukan karena Corona kampret yang 2 tahun lebih tak kunjung selesai itu, mungkin saya nggak akan ada di posisi ini. Tapi ya sudahlah. Sebagaim...

Dosen Dianiaya, Dekan Apatis

Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh seorang mahasiswa Tafsir Hadis Semester IV kepada Dosen Ulumul Al-Qur’an pada Rabu 8 Mei 2013 yang lalu, perbuatannya telah melanggar kode etik mahasiswa yang telah ditetapkan oleh Rektorat. Jika mengacu pada kode etik mahasiswa, pihak yang melakukan kekerasan seharusnya diberikan sanksi sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. Mahasiswa yang melakukan hal tersebut, seharusnya dikenakan sanksi sesuai dengan keputusan Rektorat Nomor : 07 A Tahun 2002, yang terdapat pada pasal 7 Bab IV (Tentang Pelaksanaan Tindakan Disiplin) dan   Bab V (Tentang Jenis Pelanggaran) pasal 9 huruf a, pasal 9 huruf b, pasal 9 huruf g, dan pasal 9 huruf m. Namun, kami atas nama “Aliansi Mahasiswa Anti Kekerasan” mengamati kasus tersebut tidak diselesaikan secara tuntas dan radikal, bahkan pihak Dekan tidak peduli atas kasus yang telah merambah sampai hampir satu bulan lebih. Padahal, seorang pemimpin seharusnya memiliki sifat cepat tanggap (peka/cekatan...