Transformasi
model pendidikan dan pengajaran yang kian marak dewasa ini, dari model yang
dianggap hanya sebatas pendidikan dan pola pengajaran yang stagnan dan monoton,
tapi adapula model-model yang dianggap mempunyai kontribusi besar terhadap
pertumbuhan peserta didik sehingga dengannya, peserta didik atau murid menjadi
anak yang lebih produktif dibandingkan dengan mengaplikasikan model
pembelajaran yang monoton, biasanya model pembelajaran yang produktif tadi,
digunakan di sebuah lembaga yang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya,
seperti lembaga-lembaga yang bertaraf nasional maupun internasional.
Dalam sebuah tulisan yang mungkin sangat sederhana ini, penulis
akan sedikit mengupas dan menghidangkan kepada para pembaca yang budiman,
sebuah model pembelajaran yang sangat, sangat dan sangat tradisional sehingga
mungkin model pembelajaran ini banyak dihiraukan dan didiskreditkan oleh
kebanyakan pendidik. Model pembelajaran ini biasanya banyak diterapkan pada
lembaga-lembaga kaum sarungan, kaum peci hitam tapi juga tak ketinggalan, yakni
di pesantren-pesantren yang notabene peserta didiknya para penggiat sarung dan
peci hitam, yakni sebuah model klasik tapi tak ketinggalan dengan apa yang
berkembang di era modern.
Dalam tulisan sederhana ini, penulis kerucutkan sedikit model
pendidikan ini yang diterapkan pada sebuah lembaga yang sangat sederhana, dan
berada di tempat terpencil namun bisa menjadikan peserta didiknya mengetahui
mana yang hak dan mana yang bathil, yaitu Pondok Pesantren Mathlabul Ulum
Jambu Lenteng Sumenep Madura.
Dan juga, penulis akan menghidangkan bagaimana pola kehidupan dan
kebersamaan dalam penjara suci yang lahir dari pola pengajaran klasik tapi
menghasilkan kaum sarungan yang berkualitas dan menghasilkan peserta didik atau
santri yang multi fungsi dan multi talenta.
Hikmah di balik petuah “huruf alif” di sini sama dengan huruf
“alif” di Madinah”.
Adalah Pondok
Pesantren Mathlabul Ulum yang berada di sebuah desa yang bernama Jambu kec.
Lenteng Timur, dimana pesantren ini dengan ketabahan dan kesabaran serta ke-tafaqquh
fiddin-nya KH. Taufiqqurrahman Fathul Mu’in mendirikan dan merintis
pesantren yang tetap teguh dalam aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan tetap
berafiliasi pada Nahdhatul Ulama’. Mengapa tidak, seorang KH. Taufiqqurrahman
FM yang menjadi tokoh panutan di masyarakat khususnya masyarakat sumenep, ketua
dewan Syuro NU Cab. Sumenep selalu disandang oleh kiyai yang notabene berlatar
belakang dari keluarga NU ini.
Ada sebuah kisah
yang lucu dan penulis tertatih-tatih saat mendengarkan cerita dari pak kiyai
sewaktu penulis menuntut ilmu di sana, dimana kisah ini melatar belakangi
berdiri tegaknya Pondok Pesantren Mathlabul Ulum yang kebanyakan santrinya
mengetahui akan kisah ini, dimana, sewaktu setelah KH. Taufiqurrahman lulus
dari almamaternya Darussalam di Gontor Ponorogo, beliau berkeinginan untuk
melanjutkan studinya ke sebuah Universitas di Madinah. Dan sebelum beliau
melanjutkan studinya beliau bercerita kepada kedua orang tuanya akan
keinginannya tersebut. Kesedihan dan rasa prihatin menghampiri kedua orang tua
beliau, dikarenakan kadua orang tua KH. Taufiqurrahman tidak mempunyai banyak
biaya untuk membiayai anaknya yang berkeinginan melanjutkan studinya ke Madinah
tersebut. Dengan ketabahan dan rasa tanggung jawab sebagai orang tua, akhirnya
orang tua KH. Taufiqurrahman menjual sebidang tanah guna membiyai anaknya (tanah
yang dijual oleh orang tua beliau yang sekarang dibangun kantor POLSEK Bluto).
Saat sebelum
berangkat ke Madinah, KH. Taufiqurrahman FM, berniat ingin meminta restu dan
do’a ke salah satu kiyai besar, panutan masarakat Madura, yaitu KH. Asnawi (ghafarallahu
dzunubahu), agar dalam menuntut ilmu di sana senantiasa mendapat ridho
Allah sehingga menjadi ilmu yang bermanfaat. Sesampai di kediaman KH. Asnawi,
Kiyai Taufiq mencurahkan keinginannya dan menceritakan kepada Kiyai Panutan
Madura tersebut dengan sangat santun dan penuh tatakrama, akan tetapi keinginan
kiyai taufiq muda yang diceritakan kepada beliau (kiyai Asnawi) seakan berbalik
arah, seakan harapan dan keinginnanya hilang sekejap mata setelah kiyai Asnawi mengatakan
(adebu) dengan santainya “mau ngapain jauh2 nuntut ilmu ke Madinah, huruf “alif”
di sini sama dengan huruf “alif” di Madinah”.
Setelah mendengar
wejangan dari kiyai Asnawi, kiyai Taufiq muda hanya terdiam tanpa aksara,
hatinya terasa gundah gulana bak orang yang lagi dilema asmara, dimana dia
harus memilih antara meneruskan keinginannya studi ke Madinah dan mematuhi apa
yang telah di katakan oleh Kiyai Asnawi –red-.
Namun setelah bertafakkur
secara matang dengan kesabaran dan ketabahan serta rasa ta’dzim kepada
kiya-kiyai yang ada di Madura. kiyai Taufiq muda memilih untuk tetap pada garis
penghormatan terhadap apa yang telah dikatakan oleh kiyai Asnawi tadi, yakni tetap
berada di Madura untuk menuntut ilmu.
Ternyata benar,
petuah-petuah yang disampaikan oleh Kiyai Asnawi ini banyak mengandung hikmah.
Secara garis besar ada dua hikmah apabila diamati dari petuah kiyai Asnawi ini.
Pertama, dibalik petuah yang disampaikan oleh kiyai Asnawi ternyata ada modus
(dalam bahasa remaja sekarang) yaitu; kiyai Asnawi mungkin melihat sosok
kiyai Taufiq muda ini terdapat rasa tanggung jawab besar dalam dirinya,
sehingga tak lama kemudian kiyai Taufiq muda diminta untuk menjadi pemimpin
bagi putri kiyai Asnawi yaitu Nyai Ulfah Umamiyah (putri kiyai Asnawi Imam). Kedua,
setelah menikah dengan putri kiyai Asnawi, terdapat hikmah besar yang
mungkin menjadi torehan tinta bagi perjalanan hidup kiyai Taufiq muda ini,
yaitu; mendirikan Pondok Pesantren yang
diberi nama “Mathlabul Ulum” yang awalnya hanya sebuah lembaga pendidikan
diniyah (sekolah sore).
Dua hikmah inilah,
yang mungkin tak bisa ditukar dengan keinginan kiyai Taufiq muda melanjutkan
studi ke Madinah dengan petuah sederhana kiyai Asnawi “”alif” di sini
sama dengan “alif” di Madinah”.
Antara Tren Tradisionalisme Dan Tren Modernisme
Seperti yang telah
penulis sebutkan di atas bahwa, model pembelajaran yang dianut oleh kaum
sarungan dan kaum penggiat peci hitam ini tidak terkesan apatis terhadap
tren-tren klasik yang telah mengakar menjadi tradisi, dan juga tidak kalah
saing dengan tren modernisme yang marak dewasa ini. Dengan kurikulumnya,
Mathlabul Ulum ini telah menjembatani antara khazanah keilmuan ukhrawi (agama)
dan khazanah keilmuan duniawi (umum). Pondok pesantren Mathlabul Ulum
ini tidak hanya berkutat pada khazanah keilmuan agama saja yang notabene benyak
diterapkan di pesantren-pesantren di tanah Jawa, akan tetapi pondok sederhana
ini juga menerapkan dan mengajarkan pelajaran-pelajaran umum, sehingga para
santri sekalipun bertahun-tahun berada di penjara suci, mereka juga tidak
ketinggalan dengan apa yang berkembang di luar pesantren.
Terbukti dengan mata pelajaran yang di terapkan di Ma’hadul
Mu’allimin al-Islamie (MMI), di sana ada berbagai mata pelajaran yang harus
dipelajari oleh santri, sehingga para santri dapat menyandang santri yang multi
fungsi dan multi talenta. Tak ada yang namanya jurusan IPA dan tak ada yang
namanya jurusan IPS, di MMI ini semuanya serba ada, mulai dari pelajarang yang
bernuansa agamis dan pelajaran yang umum, sehingga para santri dapat memilah
dan memilih mana yang akan ia tekuni dan mana yang ia senangi.
Begitu pula dengan
kehidupan para santri yang ada di penjara suci ini, sekalipun kurikulum yang
diterapkan di pesantren ini adalah kurikulum modern, tapi para santri tetap
gegap gempita dengan sarung dan peci hitam kebanggaannya, kebersamaan dan
kekeluargaan serta kesederhanaan selalu melekat dalam pribadi setiap santri,
tak kenal dengan namanya yang kaya dan yang miskin, kesetaraan dan kesejajaran
itulah yang selalu mereka anut dalam berkehidupan sehari-hari. Berpenampilan
rapih dan bersih serta berjalan dengan tegap seakan menjadi hal aksiomatik (Qhat’iyah)
dalam pesantren ini, tradisi klasik seperti tahlilan, diba’an juga merupakan
kegiatan rutinitas yang dilakukan oleh santri setiap malam jum’at, akan tetapi
mereka juga tidak ketinggalan bagaimana mereka belajar retorika baik retorika
berbahasa Indonesia, Arab dan Inggris. Maka dengan seperti ini para santri
benar-benar telah merasakan bagaimana benarnya adagium “al-Muhafadzatu ‘ala
Qodimi as-Sholih wa al-Akhdu bilJadidil ashlah” (menjaga tradisi yang
lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).
Inilah pola
kehidupan seorang santri ala Mathlabul Ulum Islamic Boarding School. Bangga
dengan tradisi lamanya yang baik, tapi tak lupa dengan tradisi baru yang lebih
baik. Harapan penulis semoga pesantren ini tetap konsisten pada jalan yang
telah lama diterapkan dan tak goyah dengan model pendidikan yang diaplikasikan
di pesantren-pesantren lainnya. Tetap jadi diri sendiri dan mandiri agar
menghasilkan santri yang multifungsi.
Wassalam, semoga bermanfaat…….!!

wew.
ReplyDelete