Skip to main content

QUO VADIS PERGERAKAN (movement) antara nepotisme atau tidak



berawal dari kegelisahanku saat aku duduk di bangku kuliah. berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun aku diterpa kegelisahan dan dilema kegiatan kemahasiswaan yaitu antara menjadi aktifis dan akademisi. ada yang bilang mahasiswa tanpa pergerakan bagaikan orang yang berjalan dalam kegelapan karena dia buta pengalaman (the experience is the best teacher). ada yang bilang juga orang aktifis mayoritas kuliahnya keteteran alias menjadi "mahasiswa injury time". dari situlah aku menjadi bingung dan selalu terkurung dalam kegelisahan dan dilema, aku bertanya kepada senior-senior tentang pergerakan itu bagaimana dan seperti apa.
tanpa kusadari aku mulai mencoba masuk dalam dunia pergerakan, sedikit demi sedikit aku mulai tau menau bagaimana aktifitas para mahasiswa di dunia pergerakan, mulai dari belajar organisasi, mengadakan acara-acara seminar dan lain sebagainya. akupun juga ikut aksi demonstrasi turun ke jalan menentang dan memberontak pemerintah yang menurutku memarjinalkan kaum minoritas bahkan merampas hak-hak mereka, aku memang terharu karena mayoritas penduduk kampungku adalah petani yang tak pernah letih membiyai anak-anaknya dari hasil tanamannya. aku turun ke jalan di bawah terik matahari dan melawan para polisi yang ditugaskan untuk mengawas agar para demonstran tidak melakukan tindak anarkis dalam demonstrasinya, saling dorong dengan mereka, bahkan tanpa kusadari kadang ada sepatu dan batu terbang di mana-mana. setelah selesai aksi para koordinator lapanganpun berkumpul (KORLAP), lalu aku disuguhi lembar yang tak berideologi itu dan akupun menerima dengan bertanya-tanya pada diriku sendiri, ada apa ini?, apa maksud dari semua ini? (keluh hatiku)
tapi aku belum tau apa di balik aksi itu, apa misi di balik aksi itu..?, aku selalu bertanya pada diriku, apa di balik semua itu?. dan akhirnya akupun mengetahuinya, bahwa mayoritas tindak aksi demonstrasi yang selalu aku geluti di balik semu itu adalah kepentingan politik belaka, mereka tidak benar-benar pro rakyat. tanpa kusadari idealismeku kujual sia-sia kepada mereka yang mempunyai kepentingan.
aku mulai gelisah menggeluti dunia pergerakan, aku selalu bertanya. dimana CHE GUEVARA indonesia??, dimana IWAN FALS muda??, dimana BUNG KARNO dan BUNG TOMO muda??. patriotisme, nasionalisme, idealisme telah ku tukar dengan lembar yang tak berideologi itu.
akupun jarang mengikuti aksi lagi, ku ingin mencari pengalaman lain di dunia pergerakan, sedikit demi sedikit, aku mulai kenal dengan senior di organisasiku, kadang aku silaturrahmi ke tempat mereka tinggal, hingga aku dekat dengan mereka dan mulai dipercaya.
dengan bermodalkan kepercayaan dari para seniorku, aku sangat mudah mendapatkan uang, sedikit-sedikit uang, hahahaha aku tertawa karena uang. banyak juga dari teman-temanku yang mudah sekali mendapatkan akses ke mana-mana karena mereka kenal dengan para senior mereka, ada yang kerja di salah satu perusahaan langsung diterima, ada yang jadi dosen langsung diterima, adapula yang lanjut study di luar maupun dalam negeri dengan mudah mendapatkan beasiswa, sungguh indah sekali bila dipandang sebelah mata. tapi ada kata-kata yang selalu mengiang dalam benakku yaitu (ujung-ujungnya nepotisme) "UUT". dan pertanyaan yang selalu hadir dalam benakku, apa itu semua bukan nepotisme??

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Dosen Dianiaya, Dekan Apatis

Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh seorang mahasiswa Tafsir Hadis Semester IV kepada Dosen Ulumul Al-Qur’an pada Rabu 8 Mei 2013 yang lalu, perbuatannya telah melanggar kode etik mahasiswa yang telah ditetapkan oleh Rektorat. Jika mengacu pada kode etik mahasiswa, pihak yang melakukan kekerasan seharusnya diberikan sanksi sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. Mahasiswa yang melakukan hal tersebut, seharusnya dikenakan sanksi sesuai dengan keputusan Rektorat Nomor : 07 A Tahun 2002, yang terdapat pada pasal 7 Bab IV (Tentang Pelaksanaan Tindakan Disiplin) dan   Bab V (Tentang Jenis Pelanggaran) pasal 9 huruf a, pasal 9 huruf b, pasal 9 huruf g, dan pasal 9 huruf m. Namun, kami atas nama “Aliansi Mahasiswa Anti Kekerasan” mengamati kasus tersebut tidak diselesaikan secara tuntas dan radikal, bahkan pihak Dekan tidak peduli atas kasus yang telah merambah sampai hampir satu bulan lebih. Padahal, seorang pemimpin seharusnya memiliki sifat cepat tanggap (peka/cekatan...

SEPOTONG SURGA DI “KAMPUNG PERGERAKAN”

            Nak….!! setelah lulus nanti kamu kuliahnya di STAIN Kediri aja yah, ibu dan bapak khawatir terjadi apa-apa kalau evi kuliahnya jauh-jauh Begitu tutur orang tua evi saat kedua orang tuanya mengirim Evi di Pondok Pesantren Darul Muttaqien, di penjara suci tempat Evi menuntut ilmu.             Evipun yang saat itu sudah kelas akhir di Pesantrennya merasa kebingungan setelah mendengar nasehat mulia dari orang tuanya tersebut, bak orang yang disuguhi jamu dan susu dan merasa kebinguangan yang manakah yang akan dia minum, sebab dia sudah mempunyai tekak kuat untuk melanjutkan studinya ke salah satu universitas favoritnya, dengan kegemarannya akan ilmu-ilmu agama yaitu Universitas Islam Negeri Syarif Hidayaatullah Jakarta.             Hari demi haripun ia lewati dengan penuh semangat di Penjara suci, aga...